MUDIK
WRITTEN BY
SHANIA NOVITA
- EXT. HALAMAN RUMAH SYAFRI-MALAM
CAST : SYAFRI DAN DUDUNG
Pak Syafri yang baru pulang bekerja, mendorong gerobak dagangannya dan
meletakannya di samping teras rumah. Lalu seorang lelaki yang hendak ke mesjid
lewat di depan rumah pak Syafri, dan menyapa pak Syafri.
DUDUNG
Baru pulang kang ?
( Berhenti di depan
rumah Syafri )
SYAFRI
Iya ni Dung, dari tadi
sore kejebak hujan
( Meletakkan gerobak dagangannya)
DUDUNG
Wah iya kang, sudah
beberapa hari ini hujan melulu. Kalau
gitu saya ke Mesjid dulu ya kang.
SYAFRI
Oh iya Dung, hati-hati
2. INT. RUMAH
SYAFRI-MALAM
Cast: Syafri, Mira, Tio, dan Rani
Syafri mengetok pintu rumahnya dan mengucapkan salam, lalu Mira membukakan
pintu tersebut dan menyambut suaminya pulang dengan wajah cetus. Setelah itu anak-anak Syafripun pamit
untuk mengaji ke Mesjid.
SYAFRI
Assalammualaikum, Mirrr Mirrr. Aku pulang nih!
(Menegetuk pintu)
TIO
Wah, bapak bulang buk
(Meneriaki Ibunya
yang sedang di dapur, sambil mengkemaskan peralatan untuk mengaji
ke dalam tas)
MIRA
Walaikumsalam, iya
sebentar pak
(Mencuci tangannya
dan bergegas lari membukakan pintu)
SYAFRI
Lama sekali buk,
anak-anak mana ? Udah berangkat ngaji ?
(Masuk ke dalam rumah
dan duduk di ruang tamu sambil mengipas-ngipaskan badannya)
MIRA
Itu baru mau berangkat.
(Wajah cetus dan
kembali ke dapur)
TIO
Pak, Tio berangakat
ngaji dulu yaa.
(Menyalami Syafri)
RANI
Rani juga pak,
assalammualaikum.
(Menyalami Syafri)
SYAFRI
Walaikumsalam, siap
ngaji langsung pulang yaa.
(Mengelus kepala Rani)
3. INT. KAMAR SYAFRI-MALAM
Cast: Syafri dan Mira
Setelah Syafri solat, dia melihat istrinya yang mendiamkannya sejak dia pulang. Dan dia mendatangi
istrinya yang sedang duduk di depan meja hias.
SYAFRI
Kenapa sih buk ? Dari
tadi wajahnya jelek begitu, ada masalah ?
Gak biasanya loh ibuk kayak gini.
(Melipat sajadah dan
menaruhnya di atas kursi)
MIRA
(Diam, dan
menyisir-nyisir rambutnya di meja
hias)
SYAFRI
Lah, bapak nanya diam
aja. Ibuk lagi dapet ?
(Naik ke atas ranjang)
MIRA
Pak! Aku mau mudik pak!
Udah berapa tahun sejak kita pindah ke sini, kita udah gak pernah mudik tiap
lebaran, sampai anak-anak kita udah besar
sekarang! Tadi Ibu aku di kampung nelfon,
aku juga rindu sam ibuk pak! Sama saudara-saudara
aku!
(berbicara dengan
nada kesal dan tetap menghadap ke
kaca meja hias )
SYAFRI
Itu yang bikin ibuk diam
aja sama bapak dari tadi ? Kalau ibuk mau mudik,
ya kan tinggal pergi aja buk.
(Tertawa kecil agar
suasana tidak tegang)
MIRA
Pak, aku ini gak
bercanda loh. Coba bapak ingat kapan
terakhir kita mudik ? 3 hari lagi mau
puasa pak, setelah itu lebaran. Ujung-ujungnya
kayak tahun kemarin cuma lebaran disini. Tetangga kita udah pada pulang
kampung, kita masih aja disini.
(dengan nada kesal
dan berbalik badan ke arah Syafri)
SYAFRI
Iya buk, bapak ngerti. Tapi ibuk kan tau sendiri kondisi
keuangan kita seperti apa, belum lagi utang kita disana sini. Penghasilan
bapak cuma pas-pas buat makan, gak
ada berlebih. Biaya dari mana buk
buat kita mudik ? Berapa coba harga pesawat pulang pergi, untuk empat orang lagi. Kau
ibuk gak mau lebaran tahun ini disini aja, gimana kalau kita lebaran di kampung sebelah ? Tempat
pamannya bapak, rumahnya gede loh.
(duduk di atas
ranjang)
MIRA
Ah sudahlah, capek ibuk
sama bapak. Yang ibuk mau itu mudik, pulang kampung! Ketemu sama keluarga-keluarga ibuk! Ini malah diajakin ke tempat lain. Kalau
bapak gak mau, biar ibuk aja
sendiri yang pergi mudik. Uang kan bisa dicari! Lagian kita masih ada waktu satu bulan lagi sebelum lebaran gak harus naik pesawat juga,
kan bisa saja naik bus.
(marah-marah dan naik ke
atas ranjang lalu tidur membelakangi Syafri)
SYAFRI
Lah, terus aku sama
anak-anak gimana buk ? Apa ntar kata
saudara-saudara ibuk kalau ibuk datang
sendiri. Yasudah, bapak usahakan nyari uang
sampai sebelum lebaran ya buk, tapi bapak gak
janji. Bulan puasa bapak takut gak banyak pelanggan,
anak-anak kan pada puasa, siapa yang
mau beli dagangan bapak.
(mendekati Mira)
MIRA
Ya pokoknya kalau bapak
gak bisa, aku mudik sendiri tahun ini!
Sudahlah ibuk ngantuk!
(memicingkan matanya
seakan-akan ingin tidur agar Syafri
menjarak darinya)
SYAFRI
(Menghela nafas, dan mengambil posisi untuk tidur)
4. EXT.
DEPAN GERBANG SD TIRTA SARI-SIANG
ESTABLISH:
Syafri termenung duduk di sebelah dagangannya, sambil menunggu bel pulang
sekolah berbunyi. Dan sesekali dia membuka topinya lalu memakainya kembali,
seperti orang sedang gelisah.
5. EXT.
HALAMAN SEKOLAH SD TIRTA SARI-SIANG
ESTABLISH:
Terdengar bunyi bel dari halaman sekolah tersebut, murid-murid pun keluar
dari kelasnya untuk pulang.
6. EXT.
Depan SD TIRTA SARI
CAST: Syafri dan Wawan
Syafri yang termenung dikejutkan oleh Wawan, teman akrab Syafri yang juga
berjualan di depan gerbang SD Tirta Sari. Wawan menanyakan mengapa Syafri
bermenung, dan Syafri menceritakannya. Tak lama setelah itu, anak-anak
langganan gulali Syafri membeli dagangan Syafri.
SYAFRI
(Bermenung)
WAWAN
Yah, si bro. Siang
bolong gini ngelamun. Hoi!
(Mengejuti Syafri)
SYAFRI
Eh Wan, ngagetin aja.
Bel udah bunyi belum ?
(Terkejut dan melihat ke
arah gerbang sekolah)
WAWAN
Siang-sian gini kok
ngelamun, ada yang ngambil dagangannya
ntar tau rasa. Nah ini ni, sampai-sampai
gak tau kalau belnya udah bunyi. Ngelamunin
apa sih ?
(Memindahkan dagangannya
ke sebelah dagangan Syafri)
SYAFRI
Aku bingung loh Wan,
istri ku mau mudik lebaran tahun ini.
Kalau boleh jujur sih, Mira udah hampir
lima tahun gak mudik.
(Menyiapakan dagangannya karna sebentar lagi anak-anak
akan keluar)
WAWAN
Wah parah-parah, udah
lima tahun gak mudik ? Eh! Gimanapun lebaran itu adalah momen untuk berkumpul bersama keluarga,
nah malah lu sia-siain.
(Mengaduk adonan
dagagannya)
SYAFRI
Aku ngerti Wan, aku
ngerti. Tapi ini masalah biaya mudiknya itu. Hasil aku jual gulali aja
cuma pas-pas buat makan, belum lagi
harus nyicil kontrakan. Udah gak ada
lagi uang lebih apalagi untuk mudik.
(Mendekati dagangan
Wawan)
WAWAN
Emang kampungnya istri
mu dimana toh ? Jauh ?
(Memasukan adonan
daganganya ke minyak panas)
SYAFRI
Yaa,lumayan, di Sumatera. Sekarang jadi beban sama aku
Wan, kalau aku gak bisa cari duit untuk biaya
mudik, Mira mau berangkat sendiri.
Ya, aku tau dia juga pasti gak ada
uang. Tapi Mira orangnya suka nekat
Wan.
WAWAN
Lah, kalau dia pergi
sendiri apa salahnya ? Toh keadaan yang bikin kalian gak bisa mudik sekeluarga.
Lagian kasihan juga tu istri lu udah lima tahun gak
mudik.
SYAFRI
Aku kasihan aja Wan, Ibunya Rina tu kurang suka sama aku.
Apalagi kalau lihat Rina pulang kesana sendiri, pasti dia akan mikir dan bilang
yang macam-macam. Lagian kalau pun aku
ikut, aku gak mungkin datang dengan
tangan kosong, bisa habis aku dikatai
ibu Mira.
(Melayani anak-anak yang
datang membeli)
WAWAN
Yaudah, yang sabar aja.
Lebih giat lagi jualannya. Atau kamu
nambah pekerjaan lain selain jual
gulali. Mana tau sebelum lebaran kamu
bisa ngumpulin uang buat mudik toh.
(Sibuk mengambikan
cireng untuk anak-anak yang membeli)
SYAFRI
Amiiiin, amiiin. Eh tapi
benar juga yaa, gak kepikiran loh sama
aku. Pintar juga ni tukang cireng haha.
Tapi kerja apa ya saat bulan puasa ?
WAWAN
Ah, dasar emang. Banyak toh, kamu bisa ngojek, jual
takjil, atau kalau gak salah, tetangga ku lagi nyari supir buat ngantar
beras-berasnya. Gajinya lumayan,
kalau aku bisa bawak mobil, udah aku embat
deh. Kalau mau, nanti aku kasih alamatnya.
Kamu bisa nyetir gak ?
SYAFRI
O bisa-bisa! Aku mau
kerja apa aja, yang penting bisa
ngumpulin duit buat mudik.
WAWAN
Iyaaaa Syafri,
untung-untung bisa mudik yaa sekeluarga.
7. EXT.
HALAMAN RUMAH SYAFRI-SORE
CAST: SYAFRI DAN MIRA
SYAFRI
Assalammualaikum
(Mendorong gerobak
dagangannya)
MIRA
Walaikumsalam
(Menjahit di teras
rumah)
SYAFRI
Buk, beberapa hari lagi
kan puasa. Kayaknya bapak harus nyari
kerjaan lain yang bisa menghasilkan uang
banyak. Bapak besok mau daftar jadi supir
di toko beras orang buk.
(Duduk disebelah Mira)
MIRA
Gajinya gede gak pak ?
Bisa buat mudik gak ?
(berhenti menjahit dan
melihat Syafri dengan sereng)
SYAFRI
Oalah
buk, belum juga mulai kerja udah nanya itu. Insya Allah buk, insya Allah.
(Menggelengkan kepala)
8. EXT. KIOS BERAS SYAMSUL-PAGI
CAST: SYAFRI, DUDUNG,
DAN SYAMSYUL
Dudung mengantarkan
Syafri ke kios beras tetangga Dudung. Sehari sebelumnya Dudung sudah mengatakan
pada pemilik kios tersebut, bahwa akan ada temannya yang ingin bekerja disini
sebagai penghantar beras. Syamsul, pemilik kios langsung menyuruh Syafri untuk
bekerja.
DUDUNG
Nah
ini dia kiosnya, kamu masuk sendiri aja ya.
aku udah sampai in ke pemiliknya kalau ada yang mau datang buat kerja
disini hari ini. Aku langsung cabut yaa mau jualan.
(Mendorong gerobaknya dan berhenti di depan
kiosk beras)
SYAFRI
Oh iya, iya, makasi yaa.
DUDUNG
(Mendorong gerobaknya dan
kembali jalan)
SYAMSUL
Eh
kamu, temannya Dudung yang mau kerja disini itu ya ? Saya tunggu dari tadi,
cepat-cepat langsung kerja aja. Orderan lagi banyak!
(Melihat kea rah luar kios dan menunjuk
Syafri)
SYAFRI
Saya ? Ta.. tapi pak saya belum..
(Terheran)
SYAMSUL
Sudah,
cepat bawa beras-beras ini. Kamu bisa nyetir kan ? Dudung udah bilang kemaren,
nah ini tolong antar kesini.
(Memberikan kunci mobil pick up dan sebuah
kertas yang berisikan alamat)
SYAFRI
Ba..
baik pak, baik. Termakasih pak, kalau gitu saya langsung jalan.
Assalammualaikum
(Mengambil kunci dan kertas
dari Syamsul)
SYAMSUL
Walaikumsalam
- EXT. TOKO-TOKO BERAS-SIANG
ESTABLISH:
Syafri menurunkan
beras-beras di toko-toko yang dia ambil dari kios, lalu mendatanya lagi, dan
menerima uang dari seiap toko yang didatanginya. Setelah itu menyetorkannya
dengan Syamsul.
2 MINGGU KEMUDIAN
- INT. RUMAH SYAFRI-MALAM
CAST:
SYAFRI, MIRA, RANI, TIO
Syafri
menghitung-hitung pendapatnya selama menjadi supir penghantar beras, setelah
dihitung ternyata masih sedikit dan belum cukup untuk biaya mudik dan kehidupan
di kampung Mira. Mira mengintip Syafri yang sedang menghitung pendapatannya
dari balik kamar, lalu mengahampiri Syafri dan duduk disebelahnya. Merekapun
membahas masalah mudik karna 2 minggu lagi akan lebaan. Anak-anak mereka ikut
mendengarkan pembicaraan mereka dan ikut membahasnya.
SYAFRI
(Menghitung-hitung uang)
MIRA
Gimana
pak ? Udah banyak belum duitnya ?
(Keluar dari kamar dan duduk disebelah
Syafri)
SYAFRI
Sepertinya belum buk
(sambil cengengesan)
MIRA
Gimana
? kita jadi mudik gak, bapak usaha lagi dong! Pinjam duit siapa dulu kek gitu,
atau ngapain. Dua mingg lagi udah mau lebaran loh pak.
(Menatap tajam Syafri)
(OS)
TIO
Kak,
kakak pernah mudik gak ?
(Mendengar pembicaraan Syafri
dan Mira)
Rani
Pernah,ke
kampung ibuk. Tapi sudah lama sekali, waktu kamu masih sekecil ini ni.
(Melihat Syafri dan Mira yang sedang
berbicara dan mengarahkan jarinya ke Tio)
(OS)
SYAFRI
Masya
Allah ibuk, utang kita yang sebelum-sebelumnya aja masih banyak. Ini mau
berutang lagi, saba ibuk sabar. Kalau belum cukup tandanya emang belum rezeki
kita buat mudik tahun ini.
(Menyandarkan badannya ke
kursi)
MIRA
Belum
rezeki apaan, terus kapan ada rezekinyan ? tahun depan ? 5 tahun lagi ? Udah
ah, ibuk mau minjam uang-uang tetannga aja kalau gitu, biar ibuk mudik sendiri.
Kelamaan kalau nunggu bapak punya uang!
(Berdiri dan masuk ke kamar)
SYAFRI
(V.O)
Apa
lagi yang harus aku lakukan agar bisa mengumpulkan uang sebelum lebaran ?
Ngutang ? aaah tidak, tidak, bisa-bisa pulang mudik rumah ini dijual untuk
mrmbayar semua utang-utang ku. Yang sebelumnya saja belum dibayar.
(Menghela nafas dan meminum secangkir kopi
yang ada di depannya)
11.
EXT.PERTOKOAN DEKAT PASAR-SIANG
ESTABLISH:
Syafri
menelusuri toko-toko yang ada di sepanjang pinggir jalan, untuk mencari
pekerjaan sebagai pendapatan tambahannya. Dia harus lebih bekerja ekstra hingga
sebelum lebaran. Syafri memasuki satu persatu toko-toko tersebut, ada yang
menolak dan ada yang menerima Syafri. Itulah yang dikerjakan Syafri sampai
menjelang lebaran. Pagi hingga siangnya dia mengahantarkan beras, setelah itu
dia bekerja sebagai tukang tambal ban, cuci motor,bahkan pemulung hingga malam.
12.
INT. RUMAH SYAFRI-MALAM
CAST: SYAFRI, MIRA,TIO, RANI, DAN SULIS
Mira
menerima telfon dari ibunya di kampung, yang menanyakan dia jadi pulang atu
tidak tahun ini. Setelah selesai menelfon, Tio dan Rani menanyakan kepada Mira
kenapa beberapa hari ini Syafri jarang ada di rumah dan pulang hingga larut
malam. Tidak lama kemudian Syafri datang seperti orang yang sangat lelah.
MIRA
Iya
buk, iya. Mas Syafri udah janji sama aku untuk mudik tahu ini. Sehari sebelum
lebaran aku pasti udah disana kok buk (Pause)
Aku udah bilang ke Mas Syafril kalu dia gak bisa, aku bakal pulang sendiri. (Pause) Yaa tapi gimana buk, untuk aku
sndiri saja mungkin aku akan ngutang, gimana Tio dan Rani bisa ikut juga ? (Pause)
Iya buk, seminggu lagi aku kabari yaa (Pause) Oh iya, iya (Pause) Walaikumsalam (Pause)
(Memegang handphonenya sambil
sesekali melirik Tio dan Rani yang sedang nonton tv)
TIO
Telfonan sama nenek ya
buk ?
Mira
Iya, katanya nenek ingin sekali bertemu
dengan kalian.
(Meletakkan hpnnya di atas
meja)
Buk,
kok bapak belum pulang juga ya ? Dan hampir setiap hari bapak pulangnya larut
malam terus
(Berhenti menonton tv dan
menoleh kea rah Mira)
MIRA
Ah
biarin aja, bapak lagi nyari duit biar kita beremapt saat lebaran bisa mudik.
Kalian bisa main sama sepupu-spupu kalian, bertemu dengan nenek, dank alia
nanti pasti dikasih THR sama nenek.
(Mendekati Mira dan Tio)
TIO
Wah asik, asik. Aku jadi gak sabar buk
(Menepuk tangannya)
RANI
Asik apanya, kasihan bapak yang jadiny pulang
malam terus. Pasti bapak capek sekali.
(Melihat sereng Tio)
SYAFRI
Assalammualaikum
(Suara Syafri terdengar di
depan pintu)
RANI
Eh itu bapak pualng, panjang umur. Biar Rani
saja yang membukanya buk (Pause)
Walaikumsalam pak, iya sebentar.
(Bergegas membukakan pintu)
SYAFRI
Eh kamu yang bukain, belum tidur nak ?
(Dengan wajah yang sangat lelah
dan memberikan tangannya pada Rani)
RANI
Belum
pak, tadi habis nonton dulu. Bapak kenapa ? bapak sakit ?
(Terkejut dan menyalami Syafri)
SYAFRI
Gak,
bapak gakapa-apa. Bapak ke kamar dulu yaa mau istirahat.
(Masuk dengan tergesa-gesa dan
melewati Mira dan Tio, hanya melihat mereka sebentar saja tanpa menyapa.
SEMINGGU KEMUDIAN
13.INT. KAMAR SYAFRI-PAGI
CAST:
SYAFRI, MIRA, DAN DOKTER
Sejak
kejadian malam itu, Syafri pun jauh sakit karena kecapekan. Mira memanggilkan
dokter untuk Syafri, Syafripun difonis terkena penyakit tifus oleh seorang
dokter. Mira pun kesal karna Safri sakit, karena tidak bisa bekerja untuk
mengumpulkan duit agar bisa mudik.
SYAFRI
(Tidur dengan setengah sadar
dan batuk-batuk)
MIRA
Pak, kita panggil dokter saja ya ? sudah
seminggu bapak sakit begini.
(Menghelus lengan Syafri)
SYAFRI
Gak usah buk, kita harus hemat pengeluaran
biar bisa mudik.
(Dengan nnafas yang sesak)
Iya
kita pakai dulu uangnya, kalau bapak sakit begini sama aja bapak gak bisa nyari
duit. Pokoknya kita panggil dokter ya pak, biar bapak diperiksa, diobatin,
kalau baak sehat bapak bisa nyari duit lagi. Lebaran udah hampir dekat loh pak.
(Mengambil hp untuk menelfon dokter)
SYAFRI
(Diam, dan menarik selimutnya)
2 JAM KEMUDIAN
MIRA
Jadi, suami saya sakit
apa dok ?
DOKTER
Sepertinya gejala tifus, pak Syafri mungkin
sering kecapekan. Bapak puasa hari ini ?
(Melepas stetoskop)
SYAFRI
Puaso dok.
DOKTER
Saya
sarankan agar tidak usah puasa dulu, dan bapak harus diawat di rumah sakit
untuk menjalani proses penyembuhan.
MIRA
Harus dirawat ya dok ?
DOKTER
Iya, kalau bisa langsung malam ini. Karena
kalau tidak segera, pak Syafri bisa saja step.
14.INT. RUMAH SAKIT-SIANG
CAST:
SYAFRI, MIRA, TIO, DAN RANI
Syafri,
Tio, dan Mira menjaga Syafri di rumah sakit. Tio dan Mira kasihan melihat
Syafri, sedangkan Mira kesal karena sepertinya akan batal mudik karena Syafri sakit.
MIRA
Kok
bisa kayak gini sih pak, bisa batal mudik aku kalau bapak sakit begini.
(Berbicara denan nada kesal
sambil menyuapi Syafri makan bubur)
RANI
Ya
ampun ibuuk, bapak lagi sakit buk. Masak ibuk
ngomong kayak gitu.
SYAFRI
Sudah-sudah, ini salah bapak, kalau ibuk mau
mudik, ibuk mudik saja sama anak-anak. Bapak gak apa-apa disini. Duitnya munkin
sudah cukup untuk kalian bertiga kalau naik bus.
(Menatap Mira)
TIO
Tapi bapak lagi sakit pak, kalau kami pergi
siapa yang jagain bapak ? masak bapak lebaran sendiri disini. Tio gak mau ah,
biar Tio aja yang jaga bapak.
(Memegang tangan Syafri)
RANI
Iya, Rani juga. Masak kita senang-senang tapi
bapak disini Cuma berbaring sendirian. Rani mau jagain bapak aja.
MIRA
(Diam sambil mengaduk-ngaduk
bubur dengan mulut manyun)
15. INT. RUMAH SAKIT-SIANG
CAST:
SYAFRI, MIRA, TIO, RANI, SALEH, DAN SULIS
Suasana
lebaran dengan takbir yang berkumandang, orang-orang yang akan solat Id ke
mesjid, dan bersalam-salaman. Sedangkan Mira, Tio, dan Rani hanya di rumah
sakit menemani Syafri. Pasien disebelah Syafri memberikan ketupat dan opor
makan untuk keluarga Syafri, merekapun menerimanya. Syafri kini sudah mulai
bisa duduk, Tio dan Rani pun senang, tapi Mira hanya memasang wajah cetusnya
saat lebaran karena gagal untuk mudik. Dan tak disangaka,tiba-tiba keluarga Mia
datang dari kampung kaena mengetahui Mira tidak bisa mudik lantaran Syafri
sedang dirawat, saat itu Syafri langsung bangun dan duduk. Akhirnya mereka
merayakan Idul Fitri bersama di rumah sakit dengan suka cita.
TIO
Enak
yaa pak, kalau bisa lebaran pakai baju baru. Bekumpul dengan keluarga.
(Melihat siaran tv yang
menayankan tentang lebaran)
RANI
Uh
kamu, ini kan kita juga ngumpul. Cuma baju lebarannya aja yang gak ada ha ha
ha.
(Ikut duduk bersama Tio menonton TV)
MIRA
Iya
enak, pulang kampung, ketemu keluarga, ini malah di rumah sakit pakai baju ini
lagi.
(Menarik bajunya kedepan sambil
melihat Syafri yang sedang tidur dengan kesal)
SALEH
Permisi
bapak, ibuk, ini ada sedikit ketupat dan opor ayam. Saya Saleh kakak pasien
disebelah, tadi istri saya bikin banyal.
(Membuka tirai dan menyodorkan
makanan)
MIRA
Wah makasi banyak bapak, saya Mira pak,
suaminya Syafri. Sebentar, saa pindahkan dulu ya pak.
(Bersalaman dan mengambil
tempat unduk memindahkan makanan yang diberikan Saleh.
SALEH
Ngomong-ngomong si bapak
sakit apa ya buk ?
MIRA
Oh
sakit tifus pak, jadi lebaran di rumah sakit deh hehe
(Memindahkan makanan)
SALEH
Bersyukur
aja ibuk, kita masih bisa bertemu di Idul Fitri tahun ini, si bapak juga masih
bisa merasakannya lebara. Adik perempuan saya cuma bisa tidur saja.
MIRA
Tidur
saja ? adik bapak sakit apa ? oh iya ini pak rantangnya.
(Memberikan
rantang kepada Soleh)
SOLEH
Koma
buk, sudah 3 hari. Dia ingin lebaran di rumah saya tahun ini, dan dia pergi
menggunakan motor diantar pacarnya, malangnya mereka kecelakaan buk, dan hingga saat ini dia belum sadar
juga.
(Mengambil rantang)
MIRA
Yang
sabar yaa pak, karena ingin lebaran dengan bapak, malah jadi seperti ini ya.
(Berbicara dengan nada yang lemas)
SOLEH
Iya buk, yang nama kecelakaan siapa yang mau
kan. Kaau gitu saya balik dulu yaa buk, pak, Assalammualaikum.
MIRA
Walaikumsalam,
sekali lagi terima kasih pak.
(Menganggukkan kepalanya)
TIO
Kasihan
yaa buk, pasien yang disebelah. Pasti dia gak tau kalau sekarang lagi lebaran
MIRA
(Terdiam membayangkan betapa masih beruntungnya dia masih dapat
berkumpul saat lebaran walaupun dengan kondisi Syafri yang seperti ini.
TIO
Buk,buuk.
Kok diam sih, aku makan lontong sama opor nya yaa.
(Menarik baju Mira)
MIRA
Oh iya
iyaa, sana makan berdua sama kakak yaa.
(Sadar dai khayalannya)
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN
SULIS
Asslammualaikum
(Masuk dari pintu ruangan Syafri)
MIRA
Walaikumsalam, Ibuuk ? Ya ampun buk. Pak,
paak, bangun bapak. Ibuk datang!
(Terkejut dan membangunkan
Syafri)
SULIS
Sudah-sudah,
biarkansaja suami mu istirahat. Mana anak-anak ? ini ibuk bawakan sesuatu.
(Menyodorkan beberapa plastik)
MIRA
Tio,
Raniii, sini nak, ada nenek sama saudara-saudara ibuk!
(Berbicara dengan suara yang kencang)
RANI DAN TIO
Iyaaa buk.
(Langsung berhenti makan
lontong dan opor, lalu bergegas menemui Mira)
SYAFRI
Eh
ibuuk, pit, wan, waah rame yaa.Baru datang buk ?
(Terbangun, lalu bersalaman
dengan Sulis dan menyapa semua yang datang disana)
SULIS
Iya,
ibuk dengar kamu sakit. Mira jadi gak bisa pulang kampung, yaudah ibuk susulin
aja kesini.
SYAFRI
Maafkan Syafri buk, gara-gara Syafri, Mira
gak jadi mudik ke tempat ibuk.
SULIS
Yaa,
mau gimana. Yang namanya sakit emang bisa dielakkan ?
Kalian
udah pada makan belum ? ni ibuk bawak kue lebaran kesukaan kamu Mir, ada opor,
gulai, rending. Ayo kita makan dulu rame-rame.
(Mengambil makanan yang ada dibawanya)
MIRA
Nah ini
Tio dan Rni buk, ayok sayang salam sama nenek. Salamin saudaa-saudara ibuk yang
lain.
(Melihat Rani dan Tio yang
berlarian datang dan menunjuk Sulis)
SULIS
Wah
sudah pada besar-besar yaa, nenek ada sesuatu buat kalian. Tapi kita makan dulu
yaa.
(Merangkul Tio dan Rani)
TIO
Wah asiiiiik!
(Meloncat kegirangan)
MIRA
Pak,
maafin ibuk yaa. Bapak sakit gara-gara banting tulang buat biaya ibuk mudik.
Ibuk sangat menyesal.
(Melihat Tio, Rani, dan
keluaganya yang sedang datang menyantap makanan dan bahagia sambil menyuapi
Syafri)
SYAFRI
Iya,
gak apa-apa buk. Bapak yang salah, bapak gak pernah bahagiaan ibuk, apalagi
ibuk udah lama kan gak ketemu sama orang tua ibuk. Sekarang Alhamdulillah kita
bisa berkumpul semuanya, walaupun di rumah sakit dengan keadaan bapak sepet
ini.
(Memegang tangan Mira yang ingin
menyuapainya)
MIRA
Paak…..
(Berhenti menyuapi dan memeluk Syafri sambil
menangis)
FADE OUT
THE END